close

Melaju Bersama: Di Balik Enggang Borneo, Mobil Hemat Energi Inovasi Mahasiswa UM Pontianak

Matahari Pontianak saat itu menyengat. Namun, laboratorium kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Pontianak seakan-akan memproduksi hawa panasnya sendiri. Gelora semangat generasi muda terasa jelas di ruangan kecil itu. Terbayang dengan nyata keramaian mahasiswa dalam periode praktikum dan tugas akhir, juga ide-ide yang muncul saat membuat rencana untuk kompetisi sains dan teknologi. 

Sebuah prototipe mobil balap sederhana menjadi daya tarik ruang lab itu. Bentuknya yang unik dan aerodinamis dipadukan dengan warna biru dan kuning menyala kontras dengan seisi ruangan yang nampak redup. 

Namun, daya tarik sesungguhnya adalah pada mesinnya. Hasil modifikasi sederhana dari motor tersebut membawa tim melewati berbagai rangkaian kompetisi, terakhir berhasil menempuh 295 kilometer hanya dengan satu liter bensin. Disebut Enggang Borneo, mobil inilah yang menjadi kebanggaan sekaligus hasil tumpah darah tim prototipe mobil hemat energi dari UM Pontianak.

Semangat Berinovasi Mengantar ke Kompetisi

Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Mesin UM Pontianak sekaligus dosen pembimbing Tim Prototipe Enggang Borneo, Eko Julianto memaparkan awal mula gagasan dari pembuatan mobil hemat energi ini.

“Tahun 2018, salah satu mahasiswa yang sekarang menjadi dosen UM Pontianak, Pak Muhammad Iwan menawarkan untuk mengikuti kompetisi Shell Eco-Marathon (SEM). Sebelumnya, saya sudah pernah ikut lomba itu, sekitar tahun 2005,” jelas Eko, Selasa (15/7).

Eko mengakui, belum maksimalnya persiapan dalam perlombaan pertama kali memicu kegagalan bagi tim. Namun, semangat untuk meningkatkan kreativitas dalam bidang teknik mesin mendorong mereka untuk terus berkompetisi. Dua tahun terakhir, tim Enggang Borneo mewarnai SEM 2023 di Sirkuit Internasional Mandalika, Nusa Tenggara Barat, serta Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2024 di Sirkuit Formula-E Ancol, Jakarta.

Baca Juga :  Upaya Dosen Fakultas Peternakan IPB University Persiapkan Sapi Sukses Kawin

“Kami ikut di dua kategori mobil: konsep urban dan konsep prototipe. Keduanya lolos. Tim masuk peringkat 8 besar,” kata Eko sambil tersenyum bangga.

Saat ini, tim tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti KMHE 2025 di Universitas Jember yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Di Balik Kap Mesin

Pembuatan mobil ini bukan tanpa tantangan. Kesulitan logistik hingga usaha regenerasi anggota tim menambah tekanan berkompetisi selama prosesnya. Ketua tim prototipe mobil hemat energi dan mahasiswa Teknik Mesin UM Pontianak, Ridwan memaparkan rintangan yang dihadapinya sejak menjadi ketua tim.

“Kadang, anggota tim sulit dikumpulkan. Mengurus mesin juga sering bikin pusing. Tapi, yang paling sulit adalah keuangan,” ujar Ridwan sambil tertawa. 

Solusi yang ia pecahkan dari masalah-masalah tersebut adalah pembagian tugas sesuai keahlian setiap anggota–dari divisi desain mobil, riset, mesin, hingga sponsorship. Hal ini mempermudah penyelesaian pekerjaan.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi, menjadi bagian dari tim Enggang Borneo memberi kemampuan-kemampuan baru bagi Ridwan yang berguna di dalam maupun luar ruang kelas.

“Banyak sekali skill dan pengalaman baru, seperti menggunakan simulator seperti yang dipelajari di kelas. Selain itu, kami belajar manajemen keuangan juga, yang tidak diajar di kelas,” kata Ridwan.

Senada dengan pernyataan Ridwan, Rektor UM Pontianak, Heriansyah memberi dukungan penuh terhadap inovasi tim Enggang Borneo. Kompetisi seperti ini menjadi ajang rekayasa kreatif yang dapat mengembangkan pengetahuan mahasiswa maupun dosen yang membimbing.

“Sebenarnya, letak pentingnya kompetisi ini pada pengembangan kreativitas. Apalagi, modelnya masih prototipe. Jadi, kompetisi ini mendorong mahasiswa agar belajar dan dosen dapat mengaplikasikan pengetahuannya,” tegas Rektor Heriansyah.

Baca Juga :  ITS sebagai Anggota Konsorsium BRAUIC Pertama dari Indonesia

Mimpi Lebih Jauh

Di balik suara mesin dan rangka yang terus disempurnakan, tersimpan harapan besar dari para mahasiswa, Eko, hingga Rektor Heriansyah, terutama untuk membangun budaya inovasi yang berkelanjutan.

“Kompetisi-kompetisi yang kami ikuti diciptakan agar ilmunya dapat digunakan untuk mengembangkan teknologi mobil hemat energi. Harapannya, pengetahuan yang kami dapatkan dari proses ini dapat berguna di masa yang akan datang,” kata Eko.

Iapun menyatakan kesiapan tim untuk memperkuat jejak Enggang Borneo di ranah kompetisi hemat energi, dengan target bulan Agustus dapat mengetes kinerja mobil.

Di sisi lain, Ridwan mengharapkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi tidak kalah penting demi kemenangan tim: solidaritas tim dan penggantian bahan baku mobil menjadi lebih kuat.

“Saya punya dua harapan. Dari sisi tim, semoga bisa terus kompak. Untuk mobil, semoga bisa ganti lebih baik lagi bodinya,” ujar Ridwan, tangannya memegang Enggang Borneo yang berdebu dan dipenuhi stiker logo komunitas kampus.

Dukungan institusi kampus terhadap mahasiswa melebihi keikutsertaan lomba, melainkan juga menjadi identitas Program Studi (Prodi). Rektor Heriansyah menekankan pentingnya mengembangkan sifat inovatif dan kreativitas yang sejalan dengan Prodi serta kelak dapat bermanfaat luas.

“Kami mendorong setiap prodi memiliki identitasnya masing-masing. Semoga (Enggang Borneo) bisa menjadi ciri khas dari Prodi Teknik Mesin. Jadi, penelitian dan pengembangan produk bisa fokus ke teknologi hemat energi. Saat mereka bisa membuat sesuatu yang bermanfaat, itu lebih penting menurut saya,” pungkas Rektor Heriansyah.

Dengan semangat kolaborasi dan dorongan terhadap teknologi hemat energi, inovasi mahasiswa seperti ini diharapkan terus mendapat ruang, perhatian, dan keberlanjutan dalam ekosistem pendidikan tinggi Indonesia.